Monolog Tengah Malam -->
Zul Fitrah Ramadhan
Zul Fitrah Ramadhan Blogger | internet traveler | mempunyai minat terhadap buku, film, dan game story basic.

Monolog Tengah Malam

Tidak ada komentar

Destinasi KataUdara malam ini rasanya gerah minta ampun. Kipas angin di pojok kamar sudah berputar paling kencang, tapi tetap saja rasanya cuma mengaduk hawa panas. Bukannya bikin ngantuk, hawa sumuk ini malah bikin mata tambah melek. Aku memperbaiki posisi bantal, menatap langit-langit kamar yang catnya mulai sedikit mengelupas di bagian pojok. Pikiran mulai melayang ke mana-mana, merayap dari urusan kerjaan yang menumpuk di kantor sampai akhirnya mentok di satu topik yang jujur saja agak malas buat dibahas, bahkan sama diri sendiri. Urusan percintaan. Iya, urusan asmara yang dari dulu sampai sekarang rasanya kok ya menemui jalan buntu terus.

Tadi sore aku iseng membuka media sosial, isinya penuh dengan unggahan orang-orang yang merayakan kebersamaan mereka. Ada yang pamer makan malam romantis, ada yang kasih kejutan bunga, ada yang sekadar unggah foto pasangan dengan tulisan keterangan yang panjang dan manis. Aku cuma bisa menggulir layar dengan wajah datar. Bukan iri sampai bagaimana begitu, cuma merasa takjub saja. Kok bisa ya orang-orang itu seberuntung itu menemukan seseorang yang mau berkomitmen dan berbagi hidup. Sementara aku, menjaga komunikasi biar tetap asyik lebih dari satu bulan saja susahnya minta ampun.

Teman-teman seumuranku juga sudah banyak yang mulai sebar undangan pernikahan. Ada yang sudah sibuk mencari nama anak, ada yang sudah pusing memikirkan cicilan rumah berdua. Lah aku, boro-boro mikirin masa depan sejauh itu bareng pasangan. Orang yang mau diajak bertukar pesan setiap hari saja tidak ada wujudnya. Bukan berarti aku tidak pernah berusaha. Kadang aku juga sadar dan mencoba membuka diri. Memasang aplikasi kencan, ikut kumpul dengan teman lama sekalian berharap ada kenalan baru yang kebetulan cocok. Tapi entah kenapa ujung-ujungnya selalu sama. Gagal lagi, gagal terus.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya yang salah dari semua proses ini tuh siapa. Apa aku yang terlalu kaku kalau ngobrol sama orang baru. Mungkin caraku membalas pesan terkesan dingin padahal aslinya aku cuma bingung mau merespons apa. Atau jangan-jangan aku yang punya standar terlalu tinggi, padahal sadar diri juga muka ini biasa-biasa saja dan dompet juga tidak tebal-tebal amat untuk menuruti gaya hidup mahal. Tapi rasanya standar yang aku buat juga tergolong wajar. Aku cuma cari orang yang nyambung kalau diajak ngobrol panjang lebar, punya selera humor yang tidak jauh beda, dan pastinya tidak banyak drama. Cuma itu. Nyatanya, menemukan manusia dengan kriteria yang katanya sesederhana itu justru setengah mati susahnya.

Fase pendekatan alias PDKT itu menurutku belakangan ini jadi fase yang paling melelahkan. Dulu waktu umurku masih lebih muda, rasanya seru-seru saja. Deg-degan nunggu balasan pesan masuk, senyum-senyum sendiri kalau dia mulai kasih perhatian kecil, atau sengaja pura-pura telat membalas biar tidak kelihatan terlalu berharap. Tapi sekarang, astaga rasanya cuma capek. Mengulang siklus yang sama terus-menerus itu sangat menguras energi batin. Kenalan, nanya nama siapa, kerja di mana, kesibukannya apa tiap hari, domisili di daerah mana, hobi akhir pekan ngapain.

Lalu setelah informasi dasar itu habis ditanyakan, mulai bingung mau bahas apa lagi. Akhirnya obrolan kembali jatuh ke pola basi yang membosankan. Cuma tanya sedang apa, sudah makan belum, jangan lupa istirahat ya, awas jangan sampai sakit. Siklus berulang selama beberapa minggu, seolah-olah aku sedang membaca naskah drama yang sama persis tapi dengan pemeran pengganti yang berbeda.

Awalnya memang selalu terasa hangat dan penuh dengan harapan baru. Aku sering diam-diam membatin, mungkin kali ini dia orang yang tepat. Mungkin kali ini pencarianku akhirnya bisa berhenti di dia. Tapi perlahan ritme obrolan mulai berubah. Balasan pesannya mulai butuh waktu berjam-jam. Alasan sibuk kerja atau ketiduran mulai sering dipakai sebagai tameng. Tiba-tiba saja interaksi jadi terasa hambar, kaku, dan seperti dipaksakan dari kedua belah pihak. Sampai akhirnya salah satu dari kami mulai pelan-pelan mundur dan menghilang tanpa jejak.

Di-ghosting, kalau kata anak zaman sekarang. Dulu waktu pertama kali merasakannya, sakit hatinya bukan main. Berhari-hari overthinking menebak-nebak apa salahku, apa ketikanku ada yang menyinggung perasaannya. Sekarang, rasanya sudah kebal tingkat dewa. Oh, dia hilang lagi, ya sudahlah. Paling aku cuma bisa menghela napas pelan lalu langsung menghapus riwayat obrolan dan nomor kontaknya biar tidak menuh-menuhin memori hp.

Sebenarnya ada rasa lelah yang mengendap diam-diam setiap kali sebuah usaha pendekatan berujung gagal sebelum benar-benar dimulai. Membangun kedekatan dari angka nol itu butuh investasi perasaan, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit. Ketika semua itu runtuh begitu saja, rasanya jadi malas sekali untuk menyusun bata harapan yang baru dari awal lagi. Ada kalanya aku merasa mungkin memang suratan takdirku disuruh begini dulu. Mungkin aku memang sengaja dibiarkan untuk terbiasa dan nyaman dengan kesendirian.

Lagi pula, hidup tanpa ikatan hubungan asmara tidak seburuk itu juga kalau dipikir pakai logika. Bebas mau pergi ke mana saja dan kapan saja tanpa harus wajib lapor. Tidak perlu repot kompromi adu argumen soal mau makan di mana setiap malam minggu tiba. Kalau badan capek dan mau tidur seharian penuh di hari libur juga tidak akan ada yang mengomel panjang lebar. Semua keputusan mutlak ada di tanganku sendiri.

Tapi kadang aku pasti berbohong juga kalau bilang tidak pernah merasa kesepian sama sekali. Ada momen-momen kecil yang seolah tiba-tiba datang menyentil rasa sepi di dada. Misalnya pas lagi sakit demam malam-malam dan harus memaksakan diri jalan beli obat sendiri ke minimarket depan gang dengan badan yang lemas dan kepala pusing. Di detik-detik ringkih seperti itu, pikiran ini suka berandai-andai. Rasanya pasti sangat menyenangkan kalau ada seseorang yang mengelus dahi dan menyuruhku istirahat tenang, sementara dia sibuk di dapur membuatkan teh hangat atau bubur ayam. Ya, cuma pikiran sekilas sih, tapi cukup berhasil membuat hati berdesir aneh.

Mungkin kelemahanku selama ini adalah terlalu sering membangun ekspektasi terlalu awal. Begitu ada orang yang bersikap baik atau perhatian sedikit saja, kepalaku sudah terbang jauh membayangkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Padahal dia baik ya mungkin karena memang watak aslinya begitu kepada semua orang, bukan karena dia punya ketertarikan romantis khusus. Bodohnya, aku seakan tidak pernah belajar dan selalu jatuh berdebum di lubang kesalahan yang sama. Terlalu mudah berharap, lalu akhirnya harus siap-siap kecewa sendiri oleh harapanku yang ketinggian itu. Ini sifat buruk yang sedang pelan-pelan aku coba kikis habis. Mulai belajar berhenti menaruh ekspektasi pada manusia lain. Semakin tinggi ekspektasi yang dibangun, rasanya pasti semakin hancur saat kenyataan tidak sesuai. Itu sudah hukum alam.

Sering aku merenungkan kata-kata yang bilang kalau jodoh itu tidak akan ke mana dan tidak akan tertukar. Katanya pasangan itu cerminan dari diri kita sendiri. Kalau kita sibuk memperbaiki kualitas diri, orang yang datang juga perlahan pasti orang yang punya niat baik. Aku mencoba berpegang pada keyakinan itu saja sekarang. Aku mau mencoba fokus pada kehidupanku sendiri dulu. Bekerja yang rajin biar tabungan aman, sesekali menikmati uang hasil keringat sendiri tanpa rasa bersalah untuk membeli makanan enak atau barang yang sudah lama diincar.

Membahagiakan dan menghargai diri sendiri itu ternyata tugas yang sangat penting sebelum berani-beraninya mencoba membahagiakan anak orang lain. Logikanya, kalau aku saja masih pusing dan belum selesai dengan ruwetnya urusan emosiku sendiri, bagaimana ceritanya mau ikut campur mengurus jalannya hidup orang lain. Nanti malah jadi beban.

Kadang aku menghibur diri dengan pemikiran kalau semua kegagalan yang beruntun ini pasti ada tujuan baiknya. Mungkin Tuhan sedang bekerja di belakang layar menyelamatkanku dari orang-orang yang salah. Coba bayangkan kalau dulu dipaksakan jadian padahal tidak cocok, lalu ujung-ujungnya cuma saling menyakiti dan meninggalkan trauma luka yang lebih dalam. Jauh lebih baik dihentikan paksa sejak awal pendekatan. Patah hati di tahap belum jadian itu ibarat cuma tersandung batu di jalanan rata. Sakit sebentar, dikasih obat merah, lalu besok sudah bisa jalan lagi. Coba kalau sudah telanjur komitmen jauh apalagi sampai menikah lalu hancur berantakan, itu ibarat jatuh bebas dari jurang curam. Sakitnya pasti berkali-kali lipat hancurnya dan butuh waktu bertahun-tahun buat sembuh normal.

Pemikiran semacam ini lumayan ampuh membuat rongga dadaku terasa sedikit lebih lega malam ini. Setidaknya aku bisa menemukan argumen pembelaan logis untuk hatiku yang diam-diam sering merasa babak belur. Ya sudahlah tidak apa-apa. Anggap saja masa-masa suram pencarian cinta ini sebagai bagian dari bumbu cerita hidup yang suatu hari nanti justru asyik buat ditertawakan. Lagipula, inti hidup ini kan bukan melulu soal mencari pasangan. Masih bertebaran banyak hal lain yang sangat pantas buat disyukuri tiap hari. Masih bisa punya pekerjaan tetap di zaman yang serba susah cari uang ini saja sudah sebuah rezeki yang patut dirayakan. Masih bisa makan enak tanpa takut kurang, tubuh sehat walafiat, keluarga di rumah juga kabarnya baik-baik saja, itu semua sudah lebih dari cukup.

Aku menoleh lalu meraih ponsel yang sedari tadi tergeletak pasrah tanpa suara di sebelah bantal. Layarnya menyala sesaat, menampilkan jam yang sudah menunjukkan angka lewat tengah malam, tapi sama sekali tidak ada satu pun notifikasi pesan masuk. Tidak ada pesan selamat malam yang manis. Tidak ada yang mengingatkan untuk segera tidur. Ya sudah, tidak masalah. Layar ponsel yang sepi ini toh tidak akan membuatku tiba-tiba berhenti bernapas.

Mulai besok pagi aku berjanji pada diri sendiri untuk berhenti terlalu meratapi nasib asmara yang tidak jelas juntrungannya ini. Biarkan saja urusan ini mengalir tenang mengikuti alur kehidupan. Kalau memang di masa depan nanti ada orang yang bersedia datang dan mantap menetap, ya puji syukur alhamdulillah. Kalaupun ternyata aku masih harus menunggu lebih lama lagi entah sampai kapan, ya dijalani saja sendirian dengan santai tanpa beban. Hidup masih terus berjalan dengan atau tanpa status hubungan.

Malam makin merayap larut, dan hawa panas di dalam kamar sepertinya belum juga mau minggat. Sesekali terdengar suara dengungan nyamuk yang terbang lewat dekat telinga, seolah ikut meramaikan pikiran yang sedari tadi berisik sendiri. Aku menyingkirkan selimut yang cuma bikin tambah gerah, membiarkan angin dari kipas menerpa badan sepuasnya. Udara malam ini memang bikin sumuk, tapi anehnya perasaanku malah terasa jauh lebih sejuk dan lapang setelah puas mengajak diri sendiri berdialog panjang lebar di dalam hati.

Sudah saatnya mengistirahatkan sejenak mata yang mulai berat dan otak yang terlalu banyak berpikir ini. Besok pagi rutinitas harian di dunia nyata sudah menanti untuk diselesaikan lagi. Biarlah segala urusan cinta yang selalu berujung gagal ini jadi dongeng pengantar tidur khusus untuk malam ini saja. Besok matahari akan terbit sangat terik menandakan lembaran hari yang benar-benar baru, entah itu nanti akan aku jalani dengan seseorang di sampingku kelak, atau masih harus terus berjalan sendirian menyeka keringat sendiri. Apapun skenario yang terjadi nanti, aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja pada waktunya. Ayo tidur.

Zul Fitrah Ramadhan
Zul Fitrah Ramadhan Blogger | internet traveler | mempunyai minat terhadap buku, film, dan game story basic.

Komentar