Destinasi Kata - Pernahkah Anda terbangun di tengah malam dan tiba-tiba dihantui oleh bayangan versi diri Anda yang lain? Sosok Anda yang memilih karier berbeda, yang menetap di kota yang jauh, atau yang tidak pernah melepaskan cinta di masa lalu? Para eksistensialis seperti Sartre dan Kierkegaard menyebut ini sebagai "kehidupan hantu" yang mengorbit di sekitar realitas tunggal kita. Ada kegelisahan universal yang menusuk: fakta bahwa kita hanya memiliki satu tubuh, satu garis waktu, dan satu set keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.
Penulis Jonathan Safran Foer merangkum penderitaan ini dengan sangat brutal: "Kadang-kadang aku bisa mendengar tulang-tulangku merintih di bawah beban semua kehidupan yang tidak kujalani." Beban ini bukan sekadar metafora puitis, melainkan rasa lapar kognitif akan pengalaman hidup yang mustahil kita rengkuh sekaligus. Pertanyaannya, apakah obsesi kita pada fiksi—baik itu novel tebal maupun cerita di platform digital—hanyalah pelarian, ataukah sebuah upaya medis-psikologis untuk mengobati "mutilasi" identitas kita?
![]() |
| Fiksi hiperteks punya andil dalam mengendalikan perspektif pembaca (Sumber: Unsplash/Giorgio Trovato) |
Rasa Penyesalan vs. "Sense of Possibility"
Dalam kacamata psikologi budaya, kegelisahan ini berakar pada apa yang disebut Robert Musil sebagai "sense of possibility" (rasa kemungkinan). Ini bukan sekadar imajinasi, melainkan kemampuan untuk memandang bahwa apa yang ada saat ini tidaklah lebih penting daripada apa yang mungkin ada.
Bagi sebagian orang, rasa kemungkinan ini adalah berkah sekaligus kutukan yang menciptakan "vertigo atas kemungkinan yang tidak terwujud." Penelitian Cristina Loi mengaitkan fenomena ini dengan dua trait kepribadian yang saling berkelindan:
Maximization (Maksimalisasi): Dorongan tak terbendung untuk mencari pilihan terbaik. Para "maximizer" tidak pernah puas dengan "cukup"; mereka terus memindai horizon untuk mencari alternatif masa depan yang lebih sempurna.
Regret (Penyesalan): Kecenderungan untuk terus memutar ulang masa lalu, membedah setiap keputusan, dan membayangkan bagaimana satu belokan kecil bisa mengubah seluruh narasi hidup mereka.
Individu dengan skor tinggi pada kedua sifat ini memikul beban eksistensial yang lebih berat. Bagi mereka, fiksi menjadi ruang vital karena mereka tidak hanya melihat cerita sebagai hiburan, tetapi sebagai laboratorium untuk menguji "bagaimana jika" yang selama ini hanya berputar di kepala mereka.
Membaca sebagai Mesin Waktu dan Identitas
Mengapa kita begitu haus akan cerita? George R.R. Martin pernah berujar bahwa seorang pembaca hidup seribu kali sebelum ia mati, sementara mereka yang tidak membaca hanya hidup satu kali. Namun, Umberto Eco memberikan dimensi yang lebih dalam:
"Membaca adalah keabadian yang bergerak mundur."
Kutipan Eco ini bukan sekadar pemanis kata. Jika seseorang yang tidak membaca hanya memiliki memori kolektif sepanjang usianya, seorang pembaca menyerap ingatan lima ribu tahun ke belakang. Namun, ada harga yang harus dibayar. Mario Vargas Llosa menyebut kita sebagai "makhluk yang cacat" atau "mutilasi" karena kita dibebani oleh dikotomi yang mengerikan: kapasitas untuk menginginkan seribu kehidupan, namun terjebak dalam kenyataan yang hanya satu. Fiksi hadir bukan untuk menghibur kita, melainkan untuk melengkapi bagian diri yang "terpotong" oleh keterbatasan ruang dan waktu.
Mengenal Model TEBOTS
Dalam dunia sains kognitif, fenomena ini dijelaskan melalui model Temporarily Expanding the Boundaries of the Self (TEBOTS). Cerita berfungsi sebagai "katup pelepas" dari tekanan identitas sehari-hari yang sering kali menyesakkan.
Berdasarkan Self-Determination Theory, kehidupan nyata sering kali mengancam kebutuhan kita akan otonomi dan agensi. Kita terikat oleh norma, hukum, dan tanggung jawab sosial. Fiksi adalah penawar (antidote) bagi finitas ini. Melalui cerita, kita bisa "mencoba" identitas yang berisiko—menjadi penjahat yang licik, pahlawan yang nekat, atau kekasih yang dikhianati—tanpa harus menanggung konsekuensi hukum atau sosial di dunia nyata. Ini bukan sekadar eskapisme; ini adalah cara kita merebut kembali agensi yang ditekan oleh realitas.
Pengakuan Spontan 34,5% Pembaca
Sebuah studi penting oleh Cristina Loi terhadap 498 pembaca—mulai dari penikmat buku cetak hingga pengguna platform digital seperti Wattpad—mengungkap data yang sangat manusiawi. Loi menemukan bahwa di antara mereka yang memiliki "rasa kemungkinan" yang kuat, sebanyak 34,5% secara spontan mengakui bahwa fiksi adalah obat bagi kerinduan mereka akan hidup yang tidak dijalani.
Poin krusialnya ada pada kata "spontan". Para pembaca ini tidak diarahkan untuk memberi jawaban tersebut; mereka secara sukarela menyebutkan bahwa fiksi adalah solusi bagi "lapar identitas" mereka. Salah satu responden menyatakan dengan jujur: "Karena realitas sering kali mengecewakan, aku mengizinkan diriku mengalami realitas yang berbeda dengan menempatkan diriku di posisi setiap karakter dalam cerita yang kubaca."
Data ini membuktikan bahwa kebutuhan untuk melampaui diri sendiri tidak hanya ada di rak-rak sastra klasik, tetapi juga berdenyut kencang di ruang-ruang digital seperti Wattpad, di mana pembaca mencari kontrol atas hidup yang tidak bisa mereka dapatkan di dunia nyata.
Cermin dan Jarak Identitas
Martínez memperkenalkan konsep Storyworld Possible Selves (SPS) untuk menjelaskan bagaimana karakter fiksi berfungsi sebagai proyeksi diri kita. Berbeda dengan sekadar identifikasi, SPS adalah proses di mana karakter menjadi cermin yang merefleksikan "diri masa lalu", "diri saat ini", atau yang paling kuat, "diri yang diinginkan" (desired possible selves).
Dalam proses ini, terdapat apa yang disebut sebagai Accessibility Relations (Relasi Aksesibilitas), yaitu ukuran jarak antara dunia nyata kita dan dunia fiksi:
High Accessibility (Aksesibilitas Tinggi): Kita memilih cerita yang dunianya sangat mirip dengan kita—misalnya kisah tentang seseorang yang memilih karier berbeda. Ini memuaskan rasa ingin tahu kita tentang potensi diri yang realistis.
Low Accessibility (Aksesibilitas Rendah): Kita menghuni kehidupan yang mustahil secara taksonomi, seperti menjadi penyihir di Hogwarts. Ini memuaskan bagian dari diri kita yang ingin lepas sepenuhnya dari hukum fisika dan logika dunia.
Interaksi ini memiliki potensi transformatif. Banyak pembaca melaporkan bahwa setelah "menghuni" keberanian seorang karakter, mereka akhirnya berani mengambil keputusan nyata, seperti mengakhiri hubungan yang toksik atau mengejar pendidikan yang selama ini hanya menjadi mimpi.
Konklusi
Kita harus berhenti memandang kerinduan akan "hidup yang lain" sebagai sebuah gangguan mental atau ketidakbersyukuran. Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa ini adalah fenomena yang normal dan adaptif. Menghargai keberadaan "diri-diri alternatif" melalui fiksi justru bisa meningkatkan kepuasan hidup karena ia memberi ruang bagi jiwa kita untuk bernapas di luar batas-batas tubuh yang fana.
Fiksi memberi kita izin untuk menghargai semua jalan yang tidak kita pilih, tanpa harus kehilangan pijakan pada hidup yang sedang kita jalani. Ia adalah jembatan yang menghubungkan keterbatasan manusia dengan keinginan kita yang tak terbatas.
Jika malam ini Anda membuka buku atau scrolling layar ponsel untuk membaca sebuah kisah, tanyakan pada diri sendiri: Identitas mana yang ingin Anda "pinjam" malam ini untuk melengkapi bagian diri Anda yang merasa tidak utuh?
Sumber:
Loi, C. (2025). Is fiction a remedy for our wish to live many lives? Testing a popular assumption among contemporary readers. Poetics, 111(102018). https://doi.org/10.1016/j.poetic.2025.102018
